Sabtu, 22 September 2012

SEJARAH DERBY LONDON UTARA


Derby ini juga di anggap sebagai salah satu derby terpanas di tanah Inggris.

Persaingan kedua kubu memang sengit, panas, dan pahit. Hal ini tentu tak lepas dari sejarah, tepatnya pada era 1910-an. Adalah Sir Henry Norris yang disebut sebagai yang bertanggung jawab atas lahirnya rivalitas ini.



Norris adalah yang memindahkan Arsenal ke London Utara dan memicu rivalitas kian panas. Semua berawal saat usai Perang Dunia I. Kala itu, Divisi I memutuskan untuk menambah dua anggota, dari 20 menjadi 22. Logisnya, dua klub yang berada di peringkat 19 (Chelsea) dan 20 (Spurs) Divisi I akan tetap bertahan. Sedangkan juara (Derby) dan peringkat kedua (Preston) Divisi II akan naik kasta.

Namun, kemudian Arsenal yang dipimpin Norris membuat langkah mengejutkan. Norris menyatakan jika Arsenal yang merupakan klub terlama yang ada di liga, lebih layak berada di Divisi I ketimbang Spurs. Langkah Arsenal ini kemudian diikuti Nottingham Forest, Birmingham, dan Hull. Semuanya ikut mengajukan aplikasi.

Akhirnya, keputusan pun diamlbil lewat jalan voting. Hasilnya, Arsenal yang saat kompetisi dihentikan karena Perang Dunia I pecah berada di peringkat ke-5 Divisi II pun merebut suara terbanyak dan dinyatakan berhak berada di Divisi I. Sedangkan tetangga terdekat mereka, Spurs harus rela turun kasta. Suporter Spurs menuding semua ini adalah hasil konspirasi yang didalangi Norris. Kebencian Spurs terhadap Arsenal pun kian menjadi hingga detik ini. Bagi fans Spurs, Arsenal bertanggung jawab atas terbuangnya mereka ke Divisi II.

Bagi penggila sepak bola, tentu masih ingat bagaimana sambutan yang diterima Sol Campbell yang berseragam Arsenal untuk pertama kalinya tampil di White Hart Lane, di hadapan pendukung mantan klubnya pada 2001 lalu.


Ya, Campbell dicap pengkhianat oleh pendukung Spurs. Yang membuat berang suporter Spurs adalah sebelumnya Campbell pernah berucap dirinya tak akan pernah bermain untuk Arsenal. Kebencian itu tak pernah hilang hingga kini. Bahkan, pada 2009 (saat Campbell membela Portsmouth) , beberapa pendukung Spurs dilarang datang menonton ke semua stadion di wilayah Inggris dan Wales karena lagu yang mereka nyanyikan terhadap Campbell dinilai sudah melanggar batas kesopanan.

Tahun lalu, sebuah media Inggris mengeluarkan daftar “Pengkhianat Terbesar dalam Sepak bola” dan Campbell ada di urutan pertama.

Kini, laga derby London Utara juga akan memunculkan sosok pengkhianat baru. Dia adalah William Gallas yang untuk pertama kalinya akan berlaga dalam derby berkostum Spurs. Akan menarik melihat bagaimana sambutan suporter Arsenal.

Dalam sejarah EPL sendiri, Arsenal memang memiliki catatan lebih bagus dalam derby. Musim lalu, Arsenal memang kalah dari Spurs. Namun, kekalahan 1-2 di White Hart Lane April lalu itu adalah kekalahan pertama Arsenal dari Spurs dalam 21 pertemuan terakhir. Di EPL, hanya sekali Spurs meraih kemenangan saat bertandang ke Arsenal. Itu terjadi pada 1993.

Dalam 11 pertemuan terakhir, Arsenal berhasil meraih 29 poin dari 33 yang tersedia dari rival mereka. Spurs hanya sekali berhasil menjaga gawang mereka tak kebobolan dari Arsenal dalam 23 laga EPL.

REKOR DERBY LONDON UTARA
Arsenal menang 72
Seri 46
Spurs menang 52

Bahaya Laten Hooliganisme


Kekerasan antara pendukung sepak bola di Inggris telah banyak diangkat menjadi cerita di layar kaca, Green Street Hooligans, Football Factory dan Hooligans adalah tiga titel yang bertema kekerasan hooliganisme. Semalam, dunia sepak bola Inggris dikejutkan dengan kembalinya aksi Hooliganisme di Britannia Raya.
Sejarah kekerasan antara pendukung West Ham dan Millwall sering menjadi inspirasi cerita fiksi, semalam ketika kedua tim bertemu di laga putaran kedua Piala Liga, suasanapun berlangsung panas. Tidak peduli bahwa Millwall sekarang berstatus sebagai klub League One, dua kasta di bawah Premiership. Bukanlah hal yang mengejutkan bila pertandingan keduanya beroktan tinggi, tapi siapa yang mengira bahwa kerusuhan ala tahun 1980-an akan terulang?
West Ham memulai pertandingan semalam dalam keadaan duka. Salah satu pemain belakang mereka, Calum Davenport, diserang di rumahnya, dimana kakinya ditikam dan terancam tidak bisa bermain lagi. Tidak lama setelah itu ayah  gelandang Jack Collison meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas kala ia akan menyaksikan anaknya berlaga melawan Tottenham Hotspurs hari Minggu silam.
Sebelum pertandingan, terlihat seluruh pemain West Ham mengenakan arm band hitam untuk menunjukkan bela sungkawa atas kematian ayah Jack Collison. Sedikit banyak, hal ini turut mempengaruhi emosi, baik para pemain maupun suporter, apalagi Jack Collison memutuskan untuk tetap bermain meskipun sedang dilanda duka.
Saya sendiri duduk bersama beberapa teman di bagian VIP, dan menikmati pertandingan yang berjalan relatif aman dan terkendali. Ketika Neil Harris mencetak gol bagi Millwall pada menit 22, suporter The Lions mulai bernyanyi ”Oh South London is wonderful…” dan diikuti dengan “Oh East London is like Bengal, it’s like the streets of Delhi” untuk mengejek pendukung West Ham, mencemooh daerah mereka yang dikenal sebagai kawasan hunian para imigran Asia, terutama India. Pendukung fanatis West Ham pun membalas mengejek, tapi bagi saya semua masih aman aman saja. Ejek mengejek antara supporter adalah hal yang biasa saya alami, jadi kami hanya menanggapinya dengan tertawa.
Pendukung West Ham yang frustrasi selama hampir 90 menit mendadak larut dalam histeria setelah pada menit 87, Junior Stanislas menyamakan kedudukan bagi tim asuhan Gianfranco Zola dan inilah awal perkara, karena beberapa fans West Ham terlarut dalam kepuasaan dan turun memasuki lapangan sehingga mengakibatkan pertandingan terhenti sejenak.
Skor imbang 1-1 memaksa kedua tim bermain dalam perpanjangan waktu. Stanislas lagi-lagi mencetak gol, kali ini dari titik putih pada menit 98, dan membakar ribuan suporter West Ham yang kembali menginvasi lapangan, kali ini jumlahnya lebih banyak dari gol pertama. Pemain Millwall yang gentar akan pemandangan yang dapat membahayakan diri mereka tersebut memilih untuk berdiri di pinggir lapangan.
Pendukung West Ham berbalik mengejek suporter Millwall dengan nyanyian yang dijawab langsung oleh suporter Millwall dengan mencabuti bangku stadion dan melemparkannya ke arah pendukung West Ham. Saya dan teman teman yang berada di sektor VIP tidak dalam kondisi bahaya, tapi terlihat beberapa yang duduk berseberangan dari para penggemar Millwal memang sudah berniat perang dan saling melempari. Polisi yang jumlahnya jauh lebih sedikit kebanding supporter Millwal kewalahan tapi tetap mampu memisahkan mereka dari para penggemar West Ham. Saya tidak menyangka bahwa di luar stadion kejadian yang sama sedang berlangsung dan polisi sempat kehilangan kendali ketika supporter kedua tim saling bertempur dan merusak lingkungan sekitar.
Pertandingan berakhir dengan keunggulan West Ham. Zavon Hines sempat menambah kemenangan The Hammers lewat golnya pada menit 100 tapi apa yang terjadi setelah peluit panjang tanda pertandingan usai ditiupkan jelas adalah sebuah kekalahan. Ya, kekalahan sepakbola atas hantu kekerasan.
Begitu wasit meniup peluit akhir, lebih banyak lagi suporter West Ham yang menerobos masuk lapangan. Polisi dan steward pertandingan berusaha keras mencegah pecahnya kerusuhan di dalam stadion namun mereka tetap saja kehilangan kendali atas keadaan.
Beberapa hooligans bahkan mencoba bersalaman dengan para pemain, padahal kebanyakan pemain justru terkejut dan takut melihat aksi ini. Apalagi jika mendengarkan diskusi beberapa jajaran direksi di belakang saya yang ketakutan jika perjuangan susah payah mereka akan menjadi sia sia karena West Ham bisa saja didiskualifikasi dari kompetisi. Sungguh sebuah aksi kebodohan yang sulit dimengerti.
Setelah polisi berangsur menguasai keadaan dalam lapangan kami mendapat peringatan untuk tidak meninggalkan stadion dulu, rupanya kondisi yang lebih buruk terdapat di luar stadion: mobil dijungkirbalikkan, bar yang diporak-porandakan, dan batu yang bertebaran di mana-mana. Bahkan seorang saksi mata mengatakan ia melihat seseorang yang terkapar setelah kepalanya dihantam oleh balok. Saksi mata lainnya menyaksikan bagaimana suporter Millwall mengerubungi seorang polisi anti huru-hara yang mengendarai kuda dan berusaha untuk mendorong kuda tersebut sampai jatuh.
Salah satu teman saya tidak jadi hadir menemani saya di pertandingan ini karena begitu ia tiba di stasion kereta api bawah tanah di Upton Park, polisi sudah memberi tahu bahwa mereka tidak bisa menjamin keselamatannya. Tadinya saya sempat meledek dia sebagai seorang pengecut, tapi sekarang saya bersyukur ia tidak jadi datang, karena ia harus berjalan kaki melalui area yang kini sudah menjadi area tempur kedua penggemar.
Manajer West Ham, Gianfranco Zola, nampak shock akibat apa yang ia saksikan malam itu. ”Dalam tujuh tahun di Chelsea dan 11 bulan di West Ham, saya tidak pernah melihat sesuatu seperti ini. Saya sangat terkejut dengan semua ini. Kita semua tahu bahwa pertandingan ini sangat berarti bagi kedua kelompok suporter, tapi tidak ada yang menyangka akan berakhir seperti ini”.
Asosiasi sepak bola Inggrispun mengambil tindakan cepat dengan memberi pernyataan bahwa semua orang yang yang terlibat dalam kerusuhan semalam, baik di luar dan dalam stadion, akan dilarang untuk menghadiri pertandingan sepakbola seumur hidup.
Peristiwa ini menyadarkan pemerintah Inggris bahwa menempatkan Stewards dan bukan polisi akan berkonsekuensi tinggi, terutama dalam partai yang memiliki sejarah kekerasan fans yan gtinggi. 
Pertandingan semalam seharusnya menceritakan keberanian seorang Jack Collison yang mengesampingkan rasa duka demi menjalankan tugasnya. "That’s what my dad would’ve wanted" atau "Ayah saya pasti menginginkan saya untuk terus bermain" ujar Collison. Sayangnya kisah keberanian itu malah dirusak oleh beberapa oknum yang mengaku pendukung dari klub itu sendiri.
Rekan rekan Collison mengenakan arm-band hitam untuk berkabung atas perginya ayah Collison, seharusnya arm-band itu duganakan untuk mengenang hilangnya integritas sepak bola dan munculnya kembali kebodohan hooliganisme.




SEJARAH HOOLIGAN


Konon, dalam dunia sepak bola tidak dikenal latar belakang sosial. Di dalam sepak bola hanya ada satu agama, budaya, suku, dan ras. Akan tetapi, tidak selamanya sepak bola berhasil menyatukan para penggemarnya. Fanatisme berlebihan yang ditunjukkan para suporternya membuat wajah sepak bola menjadi garang dan sangat mengerikan. Dari fanatisme kemudian lahir bibit-bibit hooligan, yaitu manusia-manusia agresif dan brutal bila tim kesayangan yang digadang-gadang untuk menang menjadi pecundang.
Bagi penggila sepak bola, istilah hooligan bukanlah kosa kata asing lagi. Sebutan hooligan merujuk pada fans fanatik Inggris yang hampir di setiap pertandingan berbuat ulah, ricuh dan rusuh. Dalam banyak kasus, terlebih saat Inggris mengalami kekalahan dalam pertandingan tandang maupun di kandang sendiri, hooligan kerap berurusan dengan kepolisian karena tidak menunjukkan perilaku sportif yang berujung anarkistis.
Jika melihat tampilan para hooligan, dalam keadaan biasa, memang lucu kelihatannya. Namun, begitu mereka beraksi, tak ada lagi yang patut ditertawakan. Mereka suka mabuk-mabukan, muntah, dan kencing sembarangan. Berkelahi dengan siapa saja yang dijumpainya, terutama terhadap pendukung musuh kesebelasannya. Polisi pun tidak segan dilabrak.
Penyakit hooliganisme tersebut kini menular ke seluruh penjuru dunia, mulai dari daratan Eropa, ujung Afrika, pedalaman Cina hingga pelosok Indonesia. Bahkan, hooliganisme di negeri ini selain mendorong anarkisme di dalam stadion, juga menyulut banalisme di luar stadion.
Kisah kekerasan suporter bola, termasuk di Indonesia, melahirkan tanda tanya besar di benak kita: ada apa dengan sepak bola dan suporternya? Sejak kapankah hooligan muncul dalam dunia sepak bola? Buku The Land of Hooligans ini secara lugas mengisahkan sejarah para perusuh sepak bola di berbagai negara. Penulis juga berusaha mengurai variabel sosial yang melingkari seluk-beluk hooliganisme.
Ini hanya satu di antara puluhan buku, atau bahkan ratusan buku, yang pernah ditulis mengenai kekerasan suporter sepak bola. Tapi, buku ini punya keistimewaan sebab mencatat kronik sejarah secara detail dan mengungkap sisi-sisi terdalam yang tidak pernah ditulis sebelumnya.

ASAL USUL HOOLIGANISME

Istilah hooliganisme muncul sejak akhir abad ke 19, tepatnya pada 1898 di Inggris. Tak heran jika Inggris adalah gudang penghasil hooligan yang paling padat. Sementara studi mengenai suporter sepak bola dimulai akhir 1960-an. Sejak itu pula, ada kepedulian politis, sosial, dan media yang besar terhadap hooliganisme sepak bola Inggris.
Puncak aksi hooliganisme terjadi pada 29 Mei 1985 ketika suporter Liverpool menyerang suporter Juventus dalam final Champions Cup di Stadion Heysel, Brussel, Belgia. Peristiwa ini bermula dari pendukung masing-masing klub yang saling mengejek dan melecehkan. Kemudian, para pendukung Juventus mulai melemparkan kembang api ke arah pendukung Liverpool. Huru-hara pun meledak. Akibat peristiwa itu, 39 orang tewas mengenaskan.
Kisah-kisah kekerasan hooligan terus mewarnai dunia sepak bola, termasuk dalam pertandingan derby. Di Skotlandia, yang paling sering terjadi adalah perang antar-suporter Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers. Celtic adalah klub yang dianggap mewakili agama Katolik, sedangkan Rangers mewakili Protestan.
Masing-masing hooligan siap bertaruh nyawa. Suporter Rangers sering menamakan diri Billy Boys, yakni geng yang menghabisi umat Katolik Glasgow semasa Perang Dunia I dan II. Akibatnya, derby kedua klub ini selalu panas. Pendukung kedua klub pun sering terlibat bentrok sebab setiap Celtic dan Rangers bertanding, olok-olokan suporter saling menyerang identitas agama kedua pihak.
Di Italia, pertandingan derby Inter Milan versus AC Milan disebut-sebut sebagai perang kaum miskin (Milan) melawan kaum kaya (Inter). Konteks yang sama terjadi pula di Turki. "Derby Istanbul" yang memertemukan Fenerbahce versus Galatasaray adalah pertandingan yang dianggap sebagai perang kaum miskin (Fenerbahce) versus aristokrat (Galatasaray).

TIPS MENCARI KOSAN ALA MAHASISWA


Kos dan mahasiswa..
Udah kayak amplop dan perangko
Udah kayak sayur dan garam
Udah kayak kamu dan aku #mendadakromantis
Sebuah kesatuan yang tidak akan terpisahkan
Karena sebagian besar mahasiswa adalah mereka para pencari ilmu yang bepergian jauh dari tanah kelahirannya #tssaahh *backsound lagu arab* #musafir #okesip

Dan gue juga merasa kalo prestasi seorang mahasiswa itu bisa dilihat dari kamar kosnya
Semakin rapi kamar kosnya, maka semakin rapi juga nilai IP nya #sahih
Semakin berantakan kamar kosnya, maka semakin berantakan juga mukanya #inibeneran #truestory )
Karena nilai tempat tinggal yang begitu esensial bagi manusia (sok iye nih bahasa gue), maka kalian para mahasiswa yang masih nomaden perlu memilih tempat kos yang tepat supaya hidup kalian bisa damai #lifeguide

Gue sebagai seorang mahasiswa mepet, merasa perlu dan bertanggung jawab untuk berbagi tips memilih kos yang tepat
Karena milih kos itu udah kayak milih pendamping hidup, gak boleh asal supaya ntar gak menyesal
Berhubung ini tahun ajaran baru, gue bakalan bagi-bagi tips yang gue harap bermanfaat buat kaskuser semua
Cekidot

1) Pilih tempat kos yang deket dari kampus, maksimal 500 langkah kaki
Kenapa gue bilang 500 langkah kaki?
Karena rata-rata langkah kaki orang dewasa (ciyeee dewasa nih udahan..) itu selebar 30 cm.
Jadi kalo 500 langkah kaki, jarak maksimal antara kampus ke kos cuma 150 meter. Gak percaya? Percaya aja deh #okesip
Hal ini tentu menguntungkan, baik dari segi waktu maupun biaya

a) Waktu
Kalo 1 langkah butuh waktu 0,5 detik, berarti 300 langkah cuma butuh 150 detik
Kalo 1 menit itu 60 detik, berarti 150 detik itu cuma 2,5 menit
Jadi kalo lo ada kuliah jam 7 pagi, lo masih bisa ngebangke (baca: tidur sambil ngiler kayak bangke) sampe jam 6 menit 57 detik 30 #matematis
Itupun kalo lo emang termasuk pendukung gerakan penghematan air sejati (baca: gak mandi) yang udah mirip kucing kalo kena air #okesip

b) Biaya
Kan gue udah bilang kalo cari kos itu maksimal 500 langkah kaki, itu berarti lo gak usah repot-repot pake motor ato mobil lo yang mencemari udara & makin bikin lebar lubang ozon itu #dramatis
Kalo gak kuat jalan kaki lo juga bisa gowes ke kampus, jadi bisa tetep gaya walau tanpa biaya #tsssaaahh
Lumayan duit yang seharusnya dipake beli bensin bisa ditabung buat masa depan #menabungpangkalkaya #nafsupangkalpaha #eh )

2) Perhatikan bapak/ibu kos nya, muka malaikat ato muka preman
Gue peringatin, ini hal yang sangat penting
Karena sebagus-bagusnya tempat kos kalo indekosnya galak, lo sama aja tinggal di neraka. Suwerrr
Dan hal ini juga akan semakin bikin stress kalo pas awal bulan duit kiriman dari ortu telat
Ngebon duit kos hanya sebuah angan-angan, sama kayak mengharapkan dapet IP 4.01. #miris
Dan gue yakin lo bakal dikejar lebih parah dari Tom ngejar Jerry #horor
Jadi, gue saranin buat cari-cari info dulu soal indekos di tempat kos pilihan lo
Kalo perlu sewa intel berpakaian preman, ato detektif sekelas Sherlock Holmes #okesip

3) Perhatikan teman-teman satu kos nya. Pastiin gak ada yang maho
Ini adalah usaha gue untuk nyelametin masa depan lo, supaya garis keturunan keluarga besar lo gak terputus #miris
Temen kos maho adalah bencana, apalagi yang kamarnya sebelahan sama kamar yang bakal lo tempati
Situasi ini lebih serem dari bom atom Hiroshima. Gak percaya? Percaya aja deh #okesip
Tidur lo gak akan nyenyak, konsentrasi belajar terganggu, nafsu makan menurun, & resiko terkena serangan jantung meningkat
Lo bakalan dihantui ketakutan lebih besar dari saat lewat kuburan, mungkin lo bakal milih buat tidur di kuburan daripada tidur di kos #logis
Jadi daripada lo mati muda, mending lo jangan kos di sarang maho kayak gini #lifeguide

Sumber :: disini

KEKERASAN SEPAKBOLA ITALIA


Budaya kekerasan dalam dunia sepakbola sering diidentikkan dengan kerusuhan antar suporter maupun perkelahian antar pemain dan ofisial tim. Pandangan tersebut tidaklah salah hanya saja tidak selamanya sepakbola itu selalu penuh dengan kekerasan meskipun sepakbola itu sendiri adalah olahraga yang keras. Kekerasan dalam sepakbola tersebut merupakan evolusi dari budaya hooliganisme yang saat ini telah berkembang ke seluruh penjuru dunia. Hooliganisme tidak hanya mendorong kekerasan di dalam stadion tetapi juga menyebarkan benih-benih kekerasan di luar stadion.

SEPAK BOLA Italia menyimpan cerita kelam. Di sana sering kali muncul kericuhan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Berikut kekerasan yang pernah terjadi.

Oktober 1979
Seorang fans Lazio bernama Vincenzo Paparelli meninggal sesudah dilempari bom api dalam derby melawan AS Roma.

Maret 1982
Tifosi AS Roma, Andrea Vitone tewas karena Romanisti lainnya membakar kereta yang membawa supporter mereka. Romanisiti melakukannya karena kesal timnya kalah dengan Bologna.

Oktober 1988
Pecah kerusuhan antara suporter Inter Milan dengan Ascoli. Nazzareno Filippini, seorang suporter Ascoli tewas delapan hari sesudah bentrokan karena luka-luka yang dideritanya sewaktu diserang pendukung Inter.

Januari 1995
Sebelum pertandingan melawan AC Milan, seorang fans Genoa, Vincenzo Spagnolo tewas tertusuk pisau.

Juni 2001
Partai Catania vs Messina membawa korban. Seorang penonton bernama Antonio Curro mati akibat terkena ledakan bom rakitan.

September 2003
Napoli terpaksa memainkan lima pertandingan tanpa penonton akibat perkelahian yang muncul di lapangan dalam pertandingan melawan Avellino. Dalam insiden itu 30 polisi cedera dan seorang fans bernama Sergio Ercolano tewas terjatuh dari tribun.

Maret 2004
Derby della Capitale lagi-lagi memicu kerusuhan. Suporter Roma turun ke lapangan untuk menemui kapten Francesco Totti agar menghentikan pertandingan. Hal itu dilakukan karena ada rumor polisi membunuh seorang suporter.

September 2004
Pertandingan antara Roma dan Dynamo Kyiv di Liga Champions ditunda karena wasit Anders Frisk terluka akibat terkena korek api yang dilemparkan suporter dari tribun.

April 2005
Kiper Milan, Nelson Dida cedera setelah dilempati kembang api oleh suporter Inter di dalam pertandingan perempat final Liga Champions 2004-05. Pertandingan itu akhirnya dihentikan.

Februari 2007
Seorang polisi bernama Filippo Raciti terbunuh dalam kericuhan antarsuporter Palermo dan Catania

November 2007
Gabriele Sandri, seorang fans Lazio meninggal karena terkena peluru nyasar yang ditembakkan polisi untuk meredakan kerusuhan antara suporter Lazio dengan Juventus.

TENTANG ULTRAS

Ultras, berasal dari bahasa latin “Ultra” yang berarti lebih, Mendukung sebuah klub kesayangannya diatas rata – rata penonton biasa. Seorang Ultra sejati tidak mengikuti mode dan hal teranyar lainnya. Saat seorang Ultra berjalan dikeramaian, kendati tanpa logo supporter, dia akan mudah dikenal orang lain. Seorang Ultra sejati hanya menyerang jika diserang dan akan menolong jika diperlukan.

Ultra tua akan memimpin dan memberikan contoh kepada yang muda. Ultra muda harus memberikan rasa hormat kepada yang tua. Ultra muda akan merasa bangga jika berdiri berdampingan dengan yang tua, mereka akan belajar dari kritikan si tua. Yang muda akan bersemangat jika mendapat jabatan tangan erat dari yang tua. Saat orang normal melihat tingkah laku Ultra, mereka tidak akan mengerti, tetapi Ultra memang tidak ingin dimengerti atau menjelaskan arti keberadaan mereka. Setiap Ultra berbeda; ada yang mengenakan logo supporter atau tim ada juga yang tidak pernah menggunakan keduanya. Ada yang bepergian dalam sebuah kelompok ada yang pergi secara individu.

Kendati berbeda, satu hal yang membuat mereka bersatu adalah kecintaan terhadap klub, hasrat mereka untuk berdiri selama 90 menit tidak peduli hujan atau dingin. Mereka bersatu dan menghangatkan diri dengan teriakan keras dan serempak, bersatu kendati tertidur setengah mabuk di sebuah kereta atau bis yang membawa mereka pada pertandingan tandang, bersatu karena konvoi di pusat kota tim lawan, bersatu karena berbagi sedikit makanan setelah berjam-jam menahan rasa lapar, bersatu karena berbagi sebatang rokok, bersatu karena berpenampilan sama, bersatu karena idealisme, bersatu karena memiliki MENTALITAS yang sama.

Semua hal diatas menyatukan kami sekaligus menjauhkan kami dari bagian dunia yang lain; dari orang tua yang khawatir, dari sepupu yang bodoh, dari teman sekolah atau rekan kerja, dari guru atau bos yang tidak memiliki rasa toleransi. Ultras tidak pernah melakukan vandalisme atau kekerasan tanpa alasan. Ini hanya cara untuk bertahan dari hidup yang sudah terkena krisis masalah sosial, acara televisi yang bodoh, disko yang terus menerus menarik anak muda dan terpenting tindakan represif yang tidak dapat dibenarkan (polisi dan federasi).

Menjadi Ultra Harus mengorbankani emosi dan hasrat yang tidak dapat dijelaskan kepada orang lain yang tidak mau mengerti atau kepada orang yang biasa memutar kepala dan melanjutkan hidup di balik kaca, orang yang tidak memilik cukup NYALI untuk menghancurkan kaca dan memasuki DUNIA KITA!

FOOTBAL WITHOUT ULTRAS IS NOTHING


PERBEDAAN HOOLIGAN DAN ULTRAS

HOOLIGAN memiliki arti yaitu fans bola yang brutal ketika tim bolanya kalah bertanding. HOOLIGAN merupakan stereotip sepakbola dari INGGRIS..tapi kemudian menjadi fenomena global...sebagian besar dari HOOLIGAN adalah para backpacker yang telah berpengalaman dalam bepergian...mereka sering menonton pertandinganyang beresiko besar..banyak dari mereka sering keluar-masuk penjara karena sering terlibat bentrok fisik...untuk mengantisipasi adanya kerusuhan,,gaya berpakaian mereka pun sudah dipersiapkan untuk berkelahi..mereka jarang menggunakan pakaian yang sama dengan tim mereka...dan memilih pakaian asal-asalan agar tak dideteksi oleh polisi...meski demikian,,mereka tidak menggunakan senjata...para HOOLIGAN biasanya tidak duduk dalam satu tempat bersama-sama dalam stadion,,tapi mereka berpencar-pencar...

ULTRAS diambil dari bahasa latin yang berarti "diluar kebiasaan"...kalangan ULTRAS tidak pernah berhenti menyayikan yel-yel tim favoritnya selama pertandingan berlangsung...mereka bahkan rela berdiri sepanjang pertandingan dan menyalakan gas warna-warni (flare) untuk mencari perhatian...gerakan-geraka
n seperti mexican move (ombak) yang kadang mereka lakukan adalah hasil instruksi dari ultras yang sangat kreatif kepada penonton yang lain..karakter ULTRAS sangat tempramental,,tidak jauh beda dengan HOOLIGAN,jika timnya kalah bertanding dan diremehkan....namun,,berbeda dengan HOOLIGAN,,tujuan mereka adalah mendukung tim,,bukan untuk unjuk kekuatan lewat fisik...anggota ultras adalah mereka yang loyal dan setia tim favoritnya cukup lama....